Untuk Lelakiku…

Posted in Feels and Thoughts, cicintaan on March 18th, 2009 and tagged

Hey lelaki kecil tercinta,

Kau tahu tidak, malam ini perempuanmu sedang memikirkanmu dan merasa sedikit benci kepadamu.

Perempuanmu benci pada ketidakmampuanmu buat mengerti apa yang dia ingin sekali kau lakukan tanpa perlu dia memintanya. Bukankah sudah pernah  dia katakan sebelumnya, dari awal malah, bahwa perempuanmu bukanlah orang yang akan meminta, namun dia ingin kau mengerti tanpa diminta. Buat hal sesederhana berkirim sms beberapa kali dalam sehari saja kau kadang lupa. Buat berinisiatif akan pergi kemana saja kau kadang tidak bisa.

Perempuanmu benci pada dirimu yang terlalu manja kepadanya dan seakan lupa pada usiamu yang tahun depan akan memasuki kepala tiga. Bukannya seharusnya dia yang dimanja dan bukannya memanja? Perempuanmu benci pada dirimu yang di tiap pertengkaran besar akan tampilkan mata yang berkaca-kaca yang katamu bukan maksudmu ingin membuatnya iba.

Perempuanmu benci pada perbedaan fisik yang terlalu nyata. Entah kenapa besar tubuhmu hanya separuh dirinya padahal disini kau lelakinya. Bukannya seharusnya perempuanmu yang bisa menyelusup dalam kehangatan lenganmu? Tapi tidak akan pernah bisa karena lenganmu yang kecil bahkan kesulitan buat mengelilingi lingkar tubuhnya. Bukannya kau yang seharusnya bisa melindunginya dengan perkasa?

Perempuanmu benci bila kau tidak menganggapnya sepenting dirimu buatnya. Tidak menanggapi teleponnya dengan menyenangkan dan kadang bahkan tidak fokus pada pembicaraan. Tidak memikirkannya sepanjang waktu sebagaimana dia akan selalu mengingatmu dalam tiap langkahnya. Tidak bersikap sama seperti biasanya padanya saat sedang sibuk dengan orang lain. Tidak mementingkan buat sekedar mengobrol dengannya bila sudah ada di hadapan komputermu. Tidak merasa bersalah setiap habis membuatnya kesal karena kalimat-kalimat sederhanamu yang sering tidak pada tempatnya. Tidak menomorsatukan perempuanmu dalam kehidupanmu, tapi baru mengingatnya di malam hari setelah semua urusanmu yang lainnya beres!

Ah lelaki kecil,

Memikirkan hal-hal tersebut membuatnya kesal dan tidak bahkan mampu buat mengangkat kedua sudut bibir malam ini. Tapi saat perempuanmu ingin cari lebih lagi kesalahan-kesalahanmu, sungguh usahanya makin melelahkan. Karena sebetulnya hanya sebegitu. Dan itu membuatnya mencintaimu lebih lagi. Kau tau lelaki kecil, mencintaimu begitu mudah. Kau punya segalanya buat bisa dicintai.

Perempuanmu cinta pada diammu yang kadang mengesalkan saat dia sedang marah dan merajuk. Karena memang itu yang perempuanmu perlukan. Waktu buat berpikir lebih dalam dan mengerti tentang segala sesuatu yang tentang terjadi. Kau memang tidak membiarkan kepala besarnya tumbuh lebih lagi. Dan kau bukannya tidak punya inisiatif buat apa-apa, tapi dia tahu kau lebih suka membiarkannya belajar buat menyatakan apa maunya dan melatih sebuah pola berkomunikasi yang baik di antara dirimu dan dirinya.

Perempuanmu cinta pada dirimu yang selalu ingin membenamkan diri dalam pelukannya. Perempuanmu mencintaimu yang menangis setelah bahasa cinta terungkap dalam ciuman indah penuh makna, karena katamu kau bersyukur untuk cinta yang dia berikan. Perempuanmu cinta padamu yang sering ketiduran tiap kali dibelai rambutmu dimana kau rebahkan kepalamu di kedua pahanya. Perempuanmu cinta padamu yang begitu, karena dia merasa dibutuhkan olehmu.

Perempuanmu cinta pada tubuh kecilmu yang lebih nyaman buat dipeluk ketimbang boneka beruang raksasa yang ada di kamarnya. Perempuanmu cinta pada tubuh kecilmu yang bisa  dirangkul dengan mudahnya kala jalan berdua tanpa perlu takut orang akan bicara apa-apa karena biasanya mereka menganggapmu adiknya saja. Perempuanmu cinta pada tubuh kecilmu yang membuatmu merasa menyesal dilahirkan ke dunia dengan bentuk sedemikian kecilnya dan tidak sedemikian berharga. Karena perempuanmu  pun demikian adanya. Ketidakpercayaan diri yang sama menghantuinya selamanya, sekalipun dengan sebab yang beda. Perempuanmu yang besar dan merasa tidak dicintai siapa-siapa. Lalu kau ada. Dan sekarang seperti katamu, perempuanmu percaya bahwa memang dirimu dan dirinya adalah pasangan yang sempurna.

Perempuanmu cinta padamu yang mengingatkan bahwa sekalipun memang berdua tapi kehidupan harus tetap berjalan dengan seimbang dan tetap indah. Tidak pernah mengekang dengan berlebihan dan penuh dengan kecurigaan. Kau biarkan perempuanmu jadi diri sendiri yang bebas namun selalu punya tempat buat pulang, ke hatimu.

Perempuanmu cinta padamu yang punya sejuta sabar dan paham. Kala tiap bulan perubahan hormon jadikan semuanya tidak masuk akal, kau tetap menerima. Menunggu sampai waktunya terlewat begitu saja, dan akan tetap tersenyum menghadapinya dengan sejuta tingkah dan kata-katanya yang kadang menyakiti hatimu. Kau tidak pernah memaki, kau tidak pernah coba buat hindari. Kau selalu hadapi perempuan ini dengan senyum dan tidak pernah pergi sekalipun diminta. Karena kau tau perempuanmu pasti akan sangat menyesali kata-katanya sesudahnya. Kau selalu ada dan menunggu. Setelahnya senyummu akan perbaiki semuanya.

Perempuanmu cinta padamu yang ternyata mengingat hal sepele yang disangka tidak akan pernah ada lelaki yang mau repot buat ingat. Mulai dari tanggal pertama kali kau bilang cinta padanya, tanggal dia balas mengatakan cinta padamu, bahkan yang membuat terpana adalah kau ingat kapan pertama kali ciuman pertama kalian yang terlalu indah terjadi saat bahkan perempuanmu tidak ingat. Kau akan selalu ingat kalimat demi kalimat yang dia ucapkan padamu dalam marahnya, dalam tangisnya, dalam bahagianya, dan tidak pernah lupa pada cerita-ceritanya.

Perempuanmu cinta akan pengertianmu. Saat dirimu dan dirinya masihlah rahasia yang belum boleh diketahui dunia, dan terutama orang tuanya. Kau yang tidak pernah memaksa buat dipamerkan pada dunia. Kau yang tidak pernah memaksa buat dirimu dianggap ada, karena kau cukup percaya bahwa dihati  perempuanmu kau pasti ada bertahta. Kau tidak marah dan memaksakan apa-apa. Kau mendukungnya hadapi semua yang dianggap berat olehnya dan tidak pernah dihadapinya sebelumnya.

Perempuanmu cinta pada harapan-harapanmu dan segala cita-citamu. Kepercayaanmu yang membuatnya ikut juga percaya. Masa depan indah yang kau bilang akan nantinya jadi nyata. Kebiasaanmu fokus pada tujuanmu semuanya supaya benar adanya kelak. Kau yang menolak buat berkata tidak dan yakin segalanya pasti bisa, termasuk juga hubunganmu dengannya yang akan berakhir bahagia. Kepercayaanmu buatnya percaya dan berani hadapi semua yang dulu perempuanmu tidak pernah berani buat jalani. Keteguhan dan ketegaran hatimu yang baru bangkit dari sakit hati yang sama dari yang pernah dialami perempuanmu benar-benar menginspirasinya buat tidak terpuruk dan mati, dan memilih mewujudkan mimpi bersamamu.

Perempuanmu cinta semua tentangmu hey lelaki kecil!

Perempuanmu memujamu dan sangat membutuhkanmu dalam kehidupannya.  Perempuanmu tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama bila tanpamu. Perempuanmu mencintai dirinya sendiri kini, karena kau mencintainya dengan sempurna. Karena kau yang selalu ada dan punya sejuta percaya. Perempuanmu bersyukur memilikimu dalam hidupnya.

Perempuanmu sudah menentukan jalannya. Kau membuatnya merasa jadi perempuan paling bahagia dengan memintanya buat wujudkan impian tertingginya. Menjadi istri dan ibu. Kau ingin menikahinya. Perempuanmu tidak punya lagi sedikitpun keraguan saat ini. Rasanya tidak akan lengkap semuanya bila kalian belum bersama. Dan bila memang menikah adalah suatu penyempurna dirimu dan dirinya, perempuanmu bersedia tanpa mengeluh apa-apa. Perempuanmu tidak sabar buat habiskan sisa hidupnya berdua denganmu, lelaki kecil yang akan ada di sisinya ketika ia membuka mata, dan akan ada di sana bila waktu terpejam kembali tiba. Perempuanmu tidak akan berkata bahwa ia mencintaimu selamanya karena selamanya adalah janji yang sangat panjang. Tapi perempuanmu akan mencintaimu selama dia bisa. Dan sepanjang hidupnya perempuanmu akan berusaha supaya selalu bisa. Karena kau telah menyempurnakan hidupnya, dan dia bersyukur karena Tuhan ijinkan dirimu dan dirinya saling bertemu dan menyatukan dua pribadi utuh yang kini dalam satu.

Dengan segenap cinta dariku,

Perempuanmu yang mencintaimu wahai lelaki kecilku.

capeeee

Selamat Malam Ayah…

Posted in Feels and Thoughts on March 18th, 2009 and tagged

Selamat malam ayah… apakabarmu disana?

Malam ini aku mengingatmu lewat sebuah film, The Year of Getting to Know Us. Aku bukan anak lelakimu satu-satunya. Aku hanyalah anak perempuan pertamamu, dari keenam anakmu, yang hanya tiga adik kandungku.

Masa kecil yang kau berikan padaku tidak akan bisa terlupa. Penuh dengan teriakan dan bentakan. Penuh dengan omelan dan kadang pukulan karena kesalahan yang seharusnya tidak berakhir demikian. Betapa galak kau saat mengajarkan matematika pada anak gadismu yang hingga sekarang membenci angka-angka. Betapa ngeri suasana yang tercipta ketika kau membanting lemari piring di depan muka kami hanya karna marah saat mama memotong pendek rambutku dan rambut Rayne.

Tapi aku juga tidak akan lupa betapa senangnya petualangan kita. Kadang dengan mama, kadang tanpa mama, kau, aku, Rayne dan Bryan kemudian setelah dia lahir. Berjalan-jalan dengan motor bertiga, berganti mobil Kijang saat anggota keluarga kita sudah mulai banyak dan sebuah motor sudah tidak mampu lagi menampung semuanya. Menyusuri jalan-jalan kecil perkampungan. Berlari-lari dan piknik di tengah sawah atau padang rumput entah dimana. Mandi di sungai kecil yang padahal coklat warnanya, tapi saat itu hanya bahagia dan senang yang terasa.

Tapi benar kata orang bahwa yang namanya bahagia kadang tidak bisa selamanya. Kita juga tidak. Entah kenapa tiba-tiba sosokmu mulai tidak pernah terlihat. Aku di asrama, mama dan adik-adik di rumah, kau dimana? Kadang sebulan sekali kau pulang, kadang hingga hampir satu tahun batang hidungmupun tidak kelihatan. Apalagi uang. Rasanya kau lupa buat mengirimkannya pada kami.

Hingga kabar itu sampai juga. Kau lari bersama perempuan itu. Perempuan yang sempat kau kenalkan pada kami saat liburan ke Palembang menjengukmu di tempat kerjamu. Perempuan yang pernah mengajakku dan Rayne bermalam di kamarnya kala itu. Beramah tamah pada kami. Ternyata perempuan itu merebutmu dan membawamu pergi! Kau memang kembali pada kami, tapi semuanya tidak akan pernah sama lagi. Kau beristri dua kata mereka. Aku hampir tidak percaya. Tapi yang namanya kenyataan memang kadang datangnya tiba-tiba dan sulit dipercaya.

Kata perceraian tidak pernah kusangka akan bisa menyentuh keluarga kita yang sekalipun selalu ribut dan jarang damai, tapi rasanya bahagia. Betapa kaget dan putus asa ketika di usia remajaku kata itu datang menghampiri dan menyapa minta masuk dalam kehidupan. Aku benci!

Kau masih ingat tidak betapa sering kau dipanggil ke sekolahku saat aku SMA dulu? Membentak guru, kabur dari sekolah, mencuri. Semua yang kulakukan entah kenapa. Yang kuingat dulu yang terasa hanya marah dan benci. Begitu menguasai sehingga membentuk pribadi. Terutama saat ibu bilang kita semua harus pindah ke Sulawesi hanya karna dia takut kau akan menikah lagi, yang ketiga kali.

Tapi bahkan dulu, saat ibu sedemikian marah dan malu katanya, kau memelukku. Mungkin rasa bersalahmu yang bicara. Tapi kau bilang tidak apa-apa, dan kau mencintaiku apa adanya. Aku menangis dan menangis. Tapi rasa benciku belum hilang disitu.

Kau tau tidak aku tidak pernah bisa menjalin hubungan baik dengan lawan jenis? Aku tidak pernah punya sahabat lelaki. Aku selalu gagal menjalin cinta dengan pasangan yang datang dan pergi. Aku punya masalah besar dengan kepercayaan. Tidak bohong, aku menyalahkanmu sepenuhnya. Kau jadi sosok lelaki yang tidak ingin kukenal dan kumiliki sama sekali. Aku menyalahkanmu akan kosongnya hidupku. Aku menyalahkanmu akan sakit hati berulangku.

Entah sejak kapan kau mulai berubah. Katamu kau mulai kenal agama. Katamu kau menyesal dan ingin perbaiki semua. Yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi, tapi paling tidak bisa disyukuri dan kesalahan tidak diulangi. Kau, pulang pergi Medan-Bandung hampir sebulan atau dua bulan sekali, membagi hidupmu dengan kami. Kirimkan banyak sekali uang pada kami yang mungkin kau sesali tidak beri cinta yang cukup dan memenuhi. Kau yang biasa berteriak menjadi kau yang sangat diam. Kau berbeda.

Lalu kau ajakku bicara. Hati ke hati. Meminta maaf. Di usiaku yang sudah makin dewasa dan bisa mengerti. Aku menangis. Aku masih sedikit benci pada masa lalu, tapi rasanya bukan padamu. Aku bisa mengerti semua salahmu ada sebabnya. Aku bisa mengerti kau bukannya tidak punya cinta yang cukup pada kami hanya saja kau tidak tahu bagaimana sampaikan pada kami. Aku bisa mengerti bahwa kalau bisa kaupun inginjadikan semuanya lebih baik dari saat ini.

Aku mengerti, dan mulai membuka diri. Aku tidak mau berakhir seperti kau dan ibu. Aku ingin lebih baik. Aku belajar, bukannya lelaki yang harus kubenci, tapi mungkin aku yang harus belajar jadi perempuan yang bisa dicintai, sekalipun masih sulit. Dengan susah payah kubangun kemampuan buat mempercayai. Dengan susah payah kubuka hati.

Dan kau disana. Memelukku. Diam. Tidak berkata apa-apa. Aku yang makin lama makin sering menangis mengeluarkan semua rasa. Padamu yang sekarang sudah bisa kuajak bicara. Tempat lariku ketika keadaan jadi tidak menentu dengan ibu. Entah sejak kapan, kau jadi yang paling bisa mengerti.

Apalah jadinya aku tanpamu, Ayah. Bahkan luka yang kau beri dan tertoreh begitu dalam jadi pelajaran yang begitu penuh makna. Bahkan salah yang terjadi jadi contoh yang berharga.

Malam ini aku mengingatmu Ayah. Apa kabarmu disana? Semoga baik-baik saja.

Semoga hangat hatimu malam ini karna kasihku yang sampai kesana.

Dia itu…

Posted in cicintaan on March 17th, 2009 and tagged

Sudah 23 tahun saya di dunia dan rasanya masih belum cukup juga waktu yang berlalu buat mengenalmu betul.

Aku mengenalmu sebagai ibu. Yang dulu aku keluar dari rahimu. Katanya seorang ibu itu adalah sosok yang paling penuh dengan cinta. Paling peduli pada buah hatinya. Aku tidak tahu, kapan terakhir tepatnya aku ingat berpikir begitu.

Masa kecilku bersamamu tidak begitu membekas dalam hatiku. Padahal kita tidak pernah berpisah rumah. kecuali saat kau mengirimku ke pondokan dulu karna terlalu nakal dan perlu dibimbing katamu. Aku ingat kau yang datang setiap minggu bawakan makanan, bawakan uang, mengobrol dan bercerita.

Tapi masa sebelum itu aku hanya ingat teriakan. Kau dan ayah. Aku hanya ingat tangisanmu. Aku hanya ingat kau yang menumbukkan kepalamu berulang kali di dinding sebelum kau pergi bersama adikku yang dulu masih sangat kecil, tapi kemudian kembali pulang. Aku cuma ingat betapa kau begitu bawel dan selalu saja memarahiku, bahkan memukuliku. Aku ingat betapa aku pernah benci padamu dan ayah karna kalimat kalimat yang kalian ucapkan padaku menyakiti hatiku yang masih muda.

Makin dewasa aku makin belajar buat mengerti. Bahwa mungkin kau begitu karna kekecewaan. Kekecewaan pada ayah, yang baru diketahui belakangan telah menduakanmu. Kecurigaanmu terbukti, dan kau rayakan kebenaranmu dengan menangis dan mengajak kami ikut menangis bersamamu. Kau selalu tuntut kami buat tegar. Kau selalu bilang bahwa kau bangga pada kami yang sekalipun hampir bagaikan kau sendiri yang mengurus kami, tapi kami tidak pernah bandel, tidak pernah bikin malu, dan prestasi kami di sekolah selalu bagus. Kau bilang bangga bisa tunjukkan pada dunia sekalipun sendiri kau mampu mengurus kami.

Tapi kan sbetulnya kau tidak sendiri. Ayah masih ada meskipun jarang hadirnya. Entah kenapa hubunganmu dan dia tidak bisa diperbaiki sama sekali. Lama lama ayah lebih sering diam. Kau tidak! Justru kau yang sering marah, kau yang mengomel, kau yang lagi dan lagi berteriak. Kau ini kenapa bu? Dipenuhi dendamkah?

Aku masih bisa mengerti. Mungkin sedemikian sakit hatimu sehingga kau tutup hati buat dirinya. Tapi apa iya itu jadi alasan buat tenggelam dalam dunia semu milikmu? Dunia dimana kau bisa tertawa bahagia bahkan ketika sedetik sebelumnya kau memarahi kami. Kau bilang kami tidak berguna. Kau bilang kami semua sama saja! Lalu kau tertawa menghadapi monitor yang bergerak gerak tawarkan satu dunia baru bagimu.

Sadarkah kau kini kau sering sekali membuat kami sakit hati? Tidak? Ah… Entah kenapa aku tidak heran. Kau ternyata memang demikian. Baru baru ini aku jadi makin mengerti.

Kau minta didengar dan dihormati, tapi kau lupa kami yang cuma anak ini juga perlu didengar dan dihormati. Kau tidak melaksanakan tugasmu sebagai ibu yang baik makin kesini, tapi kau salahkan kami yang katamu semau sendiri. Kau tidak pernah lagi terlihat bahagia bersama kami, tapi kau pergi bersama teman teman yang kau kenal baru baru ini. Pantaskah?

Aku selalu takut bila ada yang bilang bahwa semua anak perempuan akan berakhir sebagai ibu mereka. Aku tidak sama. Aku tidak begitu bangga. Aku tidak mau jadi dirimu. Aku tidak mau punya kehidupanmu. Tapi kau tidak mengerti. Kau paksa aku buat jadi apa yang katamu terbaik buatku. Terbaik buatku yang katamu, bukan kataku.

Aku benci! Aku marah! Aku menangis! Aku ikut berteriak! Akhirnya akupun mau pergi…

Lalu kulihat kau malam tadi… Menangis sendiri. Kau dalam diammu terisak entah kenapa. Siapa lagi kali ini yang buatmu kecewa? Siapa lagi kali ini yang torehkan luka? Tidak ada yang boleh! Tidak ada lagi! Hadapkan padaku biar kuhilangkan dari mukamu!

Ibu… Mungkin aku takkan pernah bisa memahami, hingga semua waktu yang ada di dunia ini habis tak bersisa. Mungkin aku akan benci padamu yang juga tidak pernah belajar buat memahamiku.

Tapi semuanya bukan berarti aku bisa melihatmu sakit. Bukan berarti aku rela air matamu jatuh lagi dan lagi. Bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi…

Ya… bahkan dalam benciku padamu ada cinta yang jauh lebih dalam dan tidak bisa tergantikan posisinya. Karena mungkin memang itu yang kau titipkan padaku. Cinta yang besar buat selamanya.

Ibu, aku sangat menyayangimu.