Dia itu…

Sudah 23 tahun saya di dunia dan rasanya masih belum cukup juga waktu yang berlalu buat mengenalmu betul.

Aku mengenalmu sebagai ibu. Yang dulu aku keluar dari rahimu. Katanya seorang ibu itu adalah sosok yang paling penuh dengan cinta. Paling peduli pada buah hatinya. Aku tidak tahu, kapan terakhir tepatnya aku ingat berpikir begitu.

Masa kecilku bersamamu tidak begitu membekas dalam hatiku. Padahal kita tidak pernah berpisah rumah. kecuali saat kau mengirimku ke pondokan dulu karna terlalu nakal dan perlu dibimbing katamu. Aku ingat kau yang datang setiap minggu bawakan makanan, bawakan uang, mengobrol dan bercerita.

Tapi masa sebelum itu aku hanya ingat teriakan. Kau dan ayah. Aku hanya ingat tangisanmu. Aku hanya ingat kau yang menumbukkan kepalamu berulang kali di dinding sebelum kau pergi bersama adikku yang dulu masih sangat kecil, tapi kemudian kembali pulang. Aku cuma ingat betapa kau begitu bawel dan selalu saja memarahiku, bahkan memukuliku. Aku ingat betapa aku pernah benci padamu dan ayah karna kalimat kalimat yang kalian ucapkan padaku menyakiti hatiku yang masih muda.

Makin dewasa aku makin belajar buat mengerti. Bahwa mungkin kau begitu karna kekecewaan. Kekecewaan pada ayah, yang baru diketahui belakangan telah menduakanmu. Kecurigaanmu terbukti, dan kau rayakan kebenaranmu dengan menangis dan mengajak kami ikut menangis bersamamu. Kau selalu tuntut kami buat tegar. Kau selalu bilang bahwa kau bangga pada kami yang sekalipun hampir bagaikan kau sendiri yang mengurus kami, tapi kami tidak pernah bandel, tidak pernah bikin malu, dan prestasi kami di sekolah selalu bagus. Kau bilang bangga bisa tunjukkan pada dunia sekalipun sendiri kau mampu mengurus kami.

Tapi kan sbetulnya kau tidak sendiri. Ayah masih ada meskipun jarang hadirnya. Entah kenapa hubunganmu dan dia tidak bisa diperbaiki sama sekali. Lama lama ayah lebih sering diam. Kau tidak! Justru kau yang sering marah, kau yang mengomel, kau yang lagi dan lagi berteriak. Kau ini kenapa bu? Dipenuhi dendamkah?

Aku masih bisa mengerti. Mungkin sedemikian sakit hatimu sehingga kau tutup hati buat dirinya. Tapi apa iya itu jadi alasan buat tenggelam dalam dunia semu milikmu? Dunia dimana kau bisa tertawa bahagia bahkan ketika sedetik sebelumnya kau memarahi kami. Kau bilang kami tidak berguna. Kau bilang kami semua sama saja! Lalu kau tertawa menghadapi monitor yang bergerak gerak tawarkan satu dunia baru bagimu.

Sadarkah kau kini kau sering sekali membuat kami sakit hati? Tidak? Ah… Entah kenapa aku tidak heran. Kau ternyata memang demikian. Baru baru ini aku jadi makin mengerti.

Kau minta didengar dan dihormati, tapi kau lupa kami yang cuma anak ini juga perlu didengar dan dihormati. Kau tidak melaksanakan tugasmu sebagai ibu yang baik makin kesini, tapi kau salahkan kami yang katamu semau sendiri. Kau tidak pernah lagi terlihat bahagia bersama kami, tapi kau pergi bersama teman teman yang kau kenal baru baru ini. Pantaskah?

Aku selalu takut bila ada yang bilang bahwa semua anak perempuan akan berakhir sebagai ibu mereka. Aku tidak sama. Aku tidak begitu bangga. Aku tidak mau jadi dirimu. Aku tidak mau punya kehidupanmu. Tapi kau tidak mengerti. Kau paksa aku buat jadi apa yang katamu terbaik buatku. Terbaik buatku yang katamu, bukan kataku.

Aku benci! Aku marah! Aku menangis! Aku ikut berteriak! Akhirnya akupun mau pergi…

Lalu kulihat kau malam tadi… Menangis sendiri. Kau dalam diammu terisak entah kenapa. Siapa lagi kali ini yang buatmu kecewa? Siapa lagi kali ini yang torehkan luka? Tidak ada yang boleh! Tidak ada lagi! Hadapkan padaku biar kuhilangkan dari mukamu!

Ibu… Mungkin aku takkan pernah bisa memahami, hingga semua waktu yang ada di dunia ini habis tak bersisa. Mungkin aku akan benci padamu yang juga tidak pernah belajar buat memahamiku.

Tapi semuanya bukan berarti aku bisa melihatmu sakit. Bukan berarti aku rela air matamu jatuh lagi dan lagi. Bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi…

Ya… bahkan dalam benciku padamu ada cinta yang jauh lebih dalam dan tidak bisa tergantikan posisinya. Karena mungkin memang itu yang kau titipkan padaku. Cinta yang besar buat selamanya.

Ibu, aku sangat menyayangimu.



12 Comments »

  1. ruanghati Said,

    March 17, 2009 @ 16:00

    hiks .
    postingan yang membuat air mataku menggenang…

    salam kenal ya say …, salam hormat untuk ibunda …

    salam kenal juga bu :)
    iya disalamin :D

  2. tazkiana Said,

    March 17, 2009 @ 20:01

    Bagus sekali Natazya…
    so bagi kamu ada award sebuah syair lagu :
    Ibuku sayang masih terus berjalan
    walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
    seperti udara kasih yang engkau berikan
    tak mampu ku membalas ibu…ibu…
    ….. Sukses selalu untuk Natazya.

    ah.. bang iwan :D
    makasih ya :D

  3. depz Said,

    March 19, 2009 @ 09:00

    mom s the best :)


    she is anyway :D

  4. senny Said,

    March 19, 2009 @ 09:54

    the best mom ever is your own mom


    indeed :D

  5. ria maniess Said,

    March 19, 2009 @ 10:18

    tulisannnnnn……. e hikss i love u mam…. i love u mam


    bilang ke mamah atuuuh heuheuheuheu

  6. anisa Said,

    March 19, 2009 @ 10:21

    I know how it feels even not that close enough to say “it sounds like my story”…tapi kadang memikul tanggung jawab menjadi Ibu dengan cara kita dibesarkan memegang peran utama bagaimana menjadikan kita sebagai sosok yang berbeda dimata anak kita..Damn, I’m a mom and I know I can do more better than my own mom..Tapi tetep, nyokap kasih gue bekal yang cukup banyak buat melihat kehidupan dan detil intriknya, meski dari penderitaan yang digoreskan atau kebahagiaan yang dia ciptakan..what ever it is, tetep itu bekal hidup gue yang sempurna..so learn to enjoy yours, Natz..

    i know…
    makanya entah kenapa gw ga bisa sepenuhnya buat pergi dari nyokap…
    still she’s been thru many things that made me :D
    but still… im gonna be so damn better than her!!! ;) AMIEN…

  7. joe Said,

    March 19, 2009 @ 14:59

    mengharukan sekali …

    ga bermaksud demikian… cuma cerita saja :D

  8. ikwan Said,

    March 23, 2009 @ 23:29

    ibuku jauh juga tempatnya, jadi sedih

  9. Bagong Said,

    March 24, 2009 @ 00:19

    Ah jadi ingat Emak di desa… lagi makan apa dia ya? telpon dulu ah…

  10. Deddy Huang Said,

    March 25, 2009 @ 23:46

    Semoga, setiap ibu bisa memahami anaknya yaaaaa :p~~

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda